Kementerian Pertanian terus mempercepat upaya mewujudkan swasembada gula nasional melalui peningkatan produksi tebu dan penguatan sektor hulu hingga hilir industri gula. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa keberhasilan swasembada gula hanya dapat dicapai apabila peningkatan produktivitas tebu berjalan seiring dengan hilirisasi yang mampu memberikan nilai tambah bagi petani dan industri nasional.
Menurut Amran, setiap pabrik gula harus didukung oleh pasokan bahan baku yang memadai sehingga penguatan sektor hulu menjadi fondasi utama keberlanjutan industri gula nasional. Selain meningkatkan produksi gula, kebijakan tersebut juga diarahkan untuk memperbaiki kesejahteraan petani tebu melalui produktivitas yang lebih tinggi dan rantai pasok yang lebih kuat.
Dukungan terhadap langkah pemerintah juga disampaikan Ketua Dewan Pembina DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) HM Arum Sabil. Ia mengusulkan agar pabrik gula rafinasi ikut membangun kebun tebu sendiri, memperluas kemitraan dengan petani, dan memperkuat produktivitas tebu sehingga menjadi bagian utuh dari mata rantai pergulaan nasional.
Kementerian Pertanian mencatat kinerja sektor pergulaan nasional pada 2026 menunjukkan peningkatan dari sisi luas areal, produktivitas, dan rendemen tebu dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah memproyeksikan produksi gula kristal putih nasional mencapai sekitar 3,044 juta ton pada 2026, yang diperkirakan sudah melampaui kebutuhan gula konsumsi rumah tangga nasional.
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah terus mempercepat berbagai program strategis, mulai dari peremajaan kebun tebu, penggunaan benih unggul, mekanisasi pertanian, penyediaan pupuk, pembangunan infrastruktur pendukung, hingga revitalisasi pabrik gula agar industri gula nasional semakin efisien dan berdaya saing.













