Jakarta – Diet OMAD atau one meal a day, tren puasa ekstrem dengan hanya satu kali makan dalam sehari, semakin populer sebagai cara cepat menurunkan berat badan. Namun, ahli gizi IPB University, Prof. Sri Anna Marliyati, mengingatkan pola ini tidak cocok untuk semua orang dan perlu dijalankan dengan hati-hati.
OMAD relatif aman bagi orang dewasa sehat usia 20 tahun ke atas yang tidak hamil, menyusui, atau memiliki penyakit kronis seperti diabetes atau maag. Sebaliknya, anak-anak, remaja, lansia, ibu hamil, dan ibu menyusui sebaiknya menghindari OMAD karena risiko kekurangan energi, hipoglikemia, penurunan massa otot, dan gangguan pencernaan.
Kunci diet OMAD sehat terletak pada kualitas makanan dan adaptasi bertahap. Menu satu kali makan harus padat gizi dan seimbang, mengandung protein berkualitas tinggi (ikan, telur, ayam tanpa kulit, tahu, tempe), karbohidrat kompleks (nasi merah, ubi, oat), lemak sehat (alpukat, minyak zaitun, kacang-kacangan), serta sayur dan buah. Cairan dan elektrolit juga wajib diperhatikan melalui air putih, sup, atau kaldu.
Sebelum mencoba OMAD penuh (~22–23 jam puasa), disarankan memulai dengan intermittent fasting ringan 12–14 jam, atau pola 16:8 agar tubuh dan lambung terbiasa. Hal ini juga membantu mencegah risiko binge eating saat waktu makan tiba.
Prof. Anna menekankan, tujuan diet harus disesuaikan dengan kondisi tubuh dan kebutuhan individu, bukan sekadar mengikuti tren. Dengan cara ini, OMAD bisa menjadi strategi pengelolaan berat badan yang lebih aman bagi mereka yang tepat, tanpa mengorbankan kesehatan.
Dikutip dari liputan6.com














