Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat menyatakan Monumen Peristiwa Kudatuli yang diresmikan di halaman Kantor DPP PDIP, Jakarta Pusat, menjadi simbol kasih ibu dan api abadi perjuangan menegakkan kebenaran serta keadilan. Monumen tersebut memvisualisasikan sosok Megawati Soekarnoputri sebagai “Ibu Peradaban” yang merangkul para korban tragedi 27 Juli 1996 dan menjaga harapan akan hadirnya keadilan.
Menurut Djarot, monumen itu membawa pesan moral bahwa segala bentuk kekerasan atas nama kekuasaan tidak dapat dibenarkan, baik secara hukum maupun kemanusiaan. Patung utama monumen dikelilingi empat obor elektrik yang menyala tanpa henti sebagai simbol keyakinan, keteguhan, keberanian, dan kesabaran dalam perjuangan menegakkan kebenaran.
Ia menjelaskan bahwa Monumen Kudatuli lahir dari perenungan mendalam terhadap tragedi kemanusiaan dan demokrasi yang terjadi 30 tahun silam. Peristiwa tersebut dinilai bukan sekadar kerusuhan fisik, melainkan upaya sistematis untuk membungkam demokrasi dan mematikan nilai-nilai kemanusiaan melalui konflik internal yang dirancang secara terstruktur.
Djarot menegaskan bahwa monumen tersebut diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh anak bangsa agar tidak takut memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seniman Dolorosa Sinaga yang merancang karya monumental tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban dan perjuangan demokrasi Indonesia.













