Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Senin (21/9/2026). Rupiah turun 25 poin atau 0,14 persen menjadi Rp17.783 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.758.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan rupiah masih berpotensi mengalami tekanan seiring kenaikan imbal hasil obligasi AS dan prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September 2026.
The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga acuan federal funds rate ke kisaran 3,75-4 persen pada 16 September 2026. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak Juli 2023.
Sementara itu, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun berada di sekitar 5 persen, sedangkan tenor dua tahun mencapai 4,756 persen, level tertinggi sejak 2024.
Rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.700-Rp17.850 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Pergerakan rupiah juga masih dipengaruhi perkembangan harga minyak dan kondisi geopolitik global.














